Surat An Nisa Ayat 21-40 di dalam tulisan Arab dan Latin Lengkap dengan Terjemahannya

Surat An Nisa Ayat 21-40 di dalam tulisan Arab dan Latin Lengkap dengan Terjemahannya daftar slot via pulsa

Simak bacaan surat An Nisa Ayat 21-40 didalam tulisan Arab dan latin di dalam artikel ini.

Selain juga ditambah bersama terjemahan berasal dari tiap-tiap ayat.

Surat An Nisa merupakan surah ke-4 didalam Al Quran dan terdiri dari 176 ayat.

Kemudian, Surat An Nisa tergolong surah Madaniyah karena diturunkan di Madinah.

Berikut Surat An Nisa Ayat 21-40, sebagaimana dikutip berasal dari quran.kemenag.go.id:

وَكَيْفَ تَأْخُذُوْنَهٗ وَقَدْ اَفْضٰى بَعْضُكُمْ اِلٰى بَعْضٍ وَّاَخَذْنَ مِنْكُمْ مِّيْثَاقًا غَلِيْظًا – ٢١

wa kaifa ta`khużụnahụ wa qad afḍā ba’ḍukum ilā ba’ḍiw wa akhażna mingkum mīṡāqan galīẓā

Artinya: Dan bagaimana kamu dapat mengambilnya ulang padahal anda sudah bergaul satu persis lain (sebagai suami-istri). Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil perjanjian yang kuat (ikatan pernikahan) dari kamu.

وَلَا تَنْكِحُوْا مَا نَكَحَ اٰبَاۤؤُكُمْ مِّنَ النِّسَاۤءِ اِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ ۗ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً وَّمَقْتًاۗ وَسَاۤءَ سَبِيْلًا ࣖ – ٢٢

wa lā tangkiḥụ mā nakaḥa ābā`ukum minan-nisā`i illā mā qad salaf, innahụ kāna fāḥisyataw wa maqtā, wa sā`a sabīlā

Artinya: Dan janganlah anda menikahi perempuan-perempuan yang sudah dinikahi oleh ayahmu, jika (kejadian pada masa) yang udah lampau. Sungguh, tingkah laku itu amat keji dan dibenci (oleh Allah) dan seburuk-buruk berjalan (yang ditempuh).

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ اُمَّهٰتُكُمْ وَبَنٰتُكُمْ وَاَخَوٰتُكُمْ وَعَمّٰتُكُمْ وَخٰلٰتُكُمْ وَبَنٰتُ الْاَخِ وَبَنٰتُ الْاُخْتِ وَاُمَّهٰتُكُمُ الّٰتِيْٓ اَرْضَعْنَكُمْ وَاَخَوٰتُكُمْ مِّنَ الرَّضَاعَةِ وَاُمَّهٰتُ نِسَاۤىِٕكُمْ وَرَبَاۤىِٕبُكُمُ الّٰتِيْ فِيْ حُجُوْرِكُمْ مِّنْ نِّسَاۤىِٕكُمُ الّٰتِيْ دَخَلْتُمْ بِهِنَّۖ فَاِنْ لَّمْ تَكُوْنُوْا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ ۖ وَحَلَاۤىِٕلُ اَبْنَاۤىِٕكُمُ الَّذِيْنَ مِنْ اَصْلَابِكُمْۙ وَاَنْ تَجْمَعُوْا بَيْنَ الْاُخْتَيْنِ اِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا ۔ – ٢٣

ḥurrimat ‘alaikum ummahātukum wa banatukum wa akhawātukum wa ‘ammātukum wa khālātukum wa banatul-akhi wa banatul-ukhti wa ummahātukumullātī arḍa’nakum wa akhawātukum minar-raḍā’ati wa ummahātu nisā`ikum wa raba`ibukumullātī fī ḥujụrikum min-nisā`ikumullātī dakhaltum bihinna fa il lam takụnụ dakhaltum bihinna fa lā junāḥa ‘alaikum wa ḥalā`ilu abnā`ikumullażīna min aṣlābikum wa an tajma’ụ bainal-ukhtaini illā mā qad salaf, innallāha kāna gafụrar raḥīmā

Artinya: Diharamkan atas anda (menikahi) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara ayahmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan berasal dari saudara-saudaramu yang Laki-laki anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan, ibu-ibumu yang menyusui kamu saudara-saudara perempuanmu sesusuan, ibu-ibu istrimu (mertua), anak-anak perempuan dari istrimu (anak tiri) yang dalam pemeliharaanmu berasal dari istri yang sudah anda campuri, sedangkan sekiranya kamu belum campur bersama dengan istrimu itu (dan udah anda ceraikan), maka tidak berdosa anda (menikahinya), (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu), dan (diharamkan) menghimpun (dalam pernikahan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang udah terjadi pada masa lampau. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

۞ وَالْمُحْصَنٰتُ مِنَ النِّسَاۤءِ اِلَّا مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ ۚ كِتٰبَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ ۚ وَاُحِلَّ لَكُمْ مَّا وَرَاۤءَ ذٰلِكُمْ اَنْ تَبْتَغُوْا بِاَمْوَالِكُمْ مُّحْصِنِيْنَ غَيْرَ مُسَافِحِيْنَ ۗ فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهٖ مِنْهُنَّ فَاٰتُوْهُنَّ اُجُوْرَهُنَّ فَرِيْضَةً ۗوَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيْمَا تَرَاضَيْتُمْ بِهٖ مِنْۢ بَعْدِ الْفَرِيْضَةِۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيْمًا حَكِيْمًا – ٢٤

wal-muḥṣanātu minan-nisā`i illā mā malakat aimānukum, kitāballāhi ‘alaikum, wa uḥilla lakum mā warā`a żālikum an tabtagụ bi`amwālikum muḥṣinīna gaira musāfiḥīn, fa mastamta’tum bihī min-hunna fa ātụhunna ujụrahunna farīḍah, wa lā junāḥa ‘alaikum fīmā tarāḍaitum bihī mim ba’dil-farīḍah, innallāha kāna ‘alīman ḥakīmā

Artinya: Dan (diharamkan terhitung kamu menikahi) perempuan yang bersuami, kalau hamba sahaya perempuan (tawanan perang) yang anda punya sebagai ketetapan Allah atas kamu Dan dihalalkan bagimu selain (perempuan-perempuan) yang demikian itu kalau kamu mengusahakan bersama hartamu untuk menikahinya bukan untuk berzina. Maka gara-gara kenikmatan yang sudah anda dapatkan berasal dari mereka, berikanlah maskawinnya kepada mereka sebagai suatu kewajiban. namun tidak mengapa jikalau ternyata di antara anda sudah saling merelakannya, setelah ditetapkan. Sungguh, Allah Maha mengetahui Mahabijaksana.

وَمَنْ لَّمْ يَسْتَطِعْ مِنْكُمْ طَوْلًا اَنْ يَّنْكِحَ الْمُحْصَنٰتِ الْمُؤْمِنٰتِ فَمِنْ مَّا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ مِّنْ فَتَيٰتِكُمُ الْمُؤْمِنٰتِۗ وَاللّٰهُ اَعْلَمُ بِاِيْمَانِكُمْ ۗ بَعْضُكُمْ مِّنْۢ بَعْضٍۚ فَانْكِحُوْهُنَّ بِاِذْنِ اَهْلِهِنَّ وَاٰتُوْهُنَّ اُجُوْرَهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ مُحْصَنٰتٍ غَيْرَ مُسٰفِحٰتٍ وَّلَا مُتَّخِذٰتِ اَخْدَانٍ ۚ فَاِذَآ اُحْصِنَّ فَاِنْ اَتَيْنَ بِفَاحِشَةٍ فَعَلَيْهِنَّ نِصْفُ مَا عَلَى الْمُحْصَنٰتِ مِنَ الْعَذَابِۗ ذٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ الْعَنَتَ مِنْكُمْ ۗ وَاَنْ تَصْبِرُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ࣖ – ٢٥

wa mal lam yastaṭi’ mingkum ṭaulan ay yangkiḥal-muḥṣanātil-mu`mināti fa mimmā malakat aimānukum min fatayātikumul-mu`mināt, wallāhu a’lamu bi`īmānikum, ba’ḍukum mim ba’ḍ, fangkiḥụhunna bi`iżni ahlihinna wa ātụhunna ujụrahunna bil-ma’rụfi muḥṣanātin gaira musāfiḥātiw wa lā muttakhiżāti akhdān, fa iżā uḥṣinna fa in ataina bifāḥisyatin fa ‘alaihinna niṣfu mā ‘alal-muḥṣanāti minal-‘ażāb, żālika liman khasyiyal-‘anata mingkum, wa an taṣbirụ khairul lakum, wallāhu gafụrur raḥīm

Artinya: Dan barangsiapa di antara kamu tidak mempunyai ongkos untuk menikahi perempuan merdeka yang beriman, maka (dihalalkan menikahi perempuan) yang beriman berasal dari hamba sahaya yang anda mempunyai Allah mengenali keimananmu. sebagian dari anda adalah dari sebagian yang lain (sama-sama keturunan Adam-Hawa), sebab itu nikahilah mereka bersama izin tuannya dan berilah mereka maskawin yang pantas, karena mereka adalah perempuan-perempuan yang merawat diri, bukan pezina dan bukan (pula) perempuan yang mengambil lelaki lain sebagai piaraannya. kalau mereka sudah berumah tangga (bersuami), sedangkan Mengerjakan kelakuan keji (zina), maka (hukuman) bagi mereka 1/2 berasal dari apa (hukuman) perempuan-perempuan merdeka (yang tidak bersuami). (Kebolehan menikahi hamba sahaya) itu, adalah bagi orang-orang yang kuatir terhadap kesulitan didalam menjaga diri (dari kelakuan zina). tetapi jikalau kamu bersabar, itu lebih baik bagimu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيُبَيِّنَ لَكُمْ وَيَهْدِيَكُمْ سُنَنَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَيَتُوْبَ عَلَيْكُمْ ۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ – ٢٦

yurīdullāhu liyubayyina lakum wa yahdiyakum sunanallażīna ming qablikum wa yatụba ‘alaikum, wallāhu ‘alīmun ḥakīm

Artinya: Allah hendak menerangkan (syariat-Nya) kepadamu, dan memberikan jalan-jalan (kehidupan) orang yang sebelum akan anda (para nabi dan orang-orang saleh) dan Dia terima tobatmu. Allah Maha mengetahui Mahabijaksana.

وَاللّٰهُ يُرِيْدُ اَنْ يَّتُوْبَ عَلَيْكُمْ ۗ وَيُرِيْدُ الَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ الشَّهَوٰتِ اَنْ تَمِيْلُوْا مَيْلًا عَظِيْمًا – ٢٧

wallāhu yurīdu ay yatụba ‘alaikum, wa yurīdullażīna yattabi’ụnasy-syahawāti an tamīlụ mailan ‘aẓīmā

Artinya: Dan Allah hendak menerima tobatmu, namun orang-orang yang mengkaji keinginannya berharap supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran).

يُرِيْدُ اللّٰهُ اَنْ يُّخَفِّفَ عَنْكُمْ ۚ وَخُلِقَ الْاِنْسَانُ ضَعِيْفًا – ٢٨

yurīdullāhu ay yukhaffifa ‘angkum, wa khuliqal-insānu ḍa’īfā

Artinya: Allah hendak menunjukkan keringanan kepadamu, gara-gara manusia diciptakan (bersifat) lemah.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِّنْكُمْ ۗ وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَنْفُسَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا – ٢٩

yā ayyuhallażīna āmanụ lā ta`kulū amwālakum bainakum bil-bāṭili illā an takụna tijāratan ‘an tarāḍim mingkum, wa lā taqtulū anfusakum, innallāha kāna bikum raḥīmā

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali di dalam perdagangan yang berlaku atas dasar bahagia persis puas di antara kamu Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu.

وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ عُدْوَانًا وَّظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيْهِ نَارًا ۗوَكَانَ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرًا – ٣٠

wa may yaf’al żālika ‘udwānaw wa ẓulman fa saufa nuṣlīhi nārā, wa kāna żālika ‘alallāhi yasīrā

Artinya: Dan barangsiapa berbuat demikianlah dengan langkah melanggar hukum dan zalim, dapat kami masukkan dia ke didalam neraka. Yang demikianlah itu gampang bagi Allah.

اِنْ تَجْتَنِبُوْا كَبَاۤىِٕرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُّدْخَلًا كَرِيْمًا – ٣١

in tajtanibụ kabā`ira mā tun-hauna ‘an-hu nukaffir ‘angkum sayyi`ātikum wa nudkhilkum mudkhalang karīmā

Artinya: misalnya kamu menghindarkan dosa-dosa besar di pada dosa-dosa yang dilarang mengerjakannya, niscaya kami hapus kesalahan-kesalahanmu dan akan kita masukkan anda ke fasilitas yang mulia (surga).

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللّٰهُ بِهٖ بَعْضَكُمْ عَلٰى بَعْضٍ ۗ لِلرِّجَالِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُوْا ۗ وَلِلنِّسَاۤءِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَ ۗوَسْـَٔلُوا اللّٰهَ مِنْ فَضْلِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا – ٣٢

wa lā tatamannau mā faḍḍalallāhu bihī ba’ḍakum ‘alā ba’ḍ, lir-rijāli naṣībum mimmaktasabụ, wa lin-nisā`i naṣībum mimmaktasabn, was`alullāha min faḍlih, innallāha kāna bikulli syai`in ‘alīmā

Artinya: Dan janganlah anda iri hati pada karunia yang sudah dilebihkan Allah kepada beberapa anda atas beberapa yang lain. (Karena) bagi laki laki hadir proporsi berasal dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) datang proporsi berasal dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah beberapa dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha mengetahui segala sesuatu.

وَلِكُلٍّ جَعَلْنَا مَوَالِيَ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدٰنِ وَالْاَقْرَبُوْنَ ۗ وَالَّذِيْنَ عَقَدَتْ اَيْمَانُكُمْ فَاٰتُوْهُمْ نَصِيْبَهُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدًا ࣖ – ٣٣

wa likullin ja’alnā mawāliya mimmā tarakal-wālidāni wal-aqrabụn, wallażīna ‘aqadat aimānukum fa ātụhum naṣībahum, innallāha kāna ‘alā kulli syai`in syahīdā

Artinya: Dan untuk tiap-tiap (laki-laki dan perempuan) kita telah menetapkan para ahli waris atas apa yang ditinggalkan oleh kedua orang tuanya dan karib kerabatnya. Dan orang-orang yang kamu telah bersumpah setia bersama mereka, maka berikanlah kepada mereka bagiannya. Sungguh, Allah Maha menyaksikan segala sesuatu.

اَلرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النِّسَاۤءِ بِمَا فَضَّلَ اللّٰهُ بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍ وَّبِمَآ اَنْفَقُوْا مِنْ اَمْوَالِهِمْ ۗ فَالصّٰلِحٰتُ قٰنِتٰتٌ حٰفِظٰتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّٰهُ ۗوَالّٰتِيْ تَخَافُوْنَ نُشُوْزَهُنَّ فَعِظُوْهُنَّ وَاهْجُرُوْهُنَّ فِى الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوْهُنَّ ۚ فَاِنْ اَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوْا عَلَيْهِنَّ سَبِيْلًا ۗاِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيْرًا – ٣٤

ar-rijālu qawwāmụna ‘alan-nisā`i bimā faḍḍalallāhu ba’ḍahum ‘alā ba’ḍiw wa bimā anfaqụ min amwālihim, faṣ-ṣāliḥātu qānitātun ḥāfiẓātul lil-gaibi bimā ḥafiẓallāh, wallātī takhāfụna nusyụzahunna fa’iẓụhunna wahjurụhunna fil-maḍāji’i waḍribụhunn, fa in aṭa’nakum fa lā tabgụ ‘alaihinna sabīlā, innallāha kāna ‘aliyyang kabīrā

Artinya: laki laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), dikarenakan Allah udah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas beberapa yang lain (perempuan), dan gara-gara mereka (laki-laki) telah membuktikan nafkah berasal dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang saleh adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan mempertahankan diri ketika (suaminya) tidak hadir sebab Allah udah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang anda khawatirkan dapat nusyuz, hendaklah anda beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. sedangkan seumpama mereka menaatimu, maka janganlah anda mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Mahatinggi, Mahabesar.

وَاِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوْا حَكَمًا مِّنْ اَهْلِهٖ وَحَكَمًا مِّنْ اَهْلِهَا ۚ اِنْ يُّرِيْدَآ اِصْلَاحًا يُّوَفِّقِ اللّٰهُ بَيْنَهُمَا ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيْمًا خَبِيْرًا – ٣٥

wa in khiftum syiqāqa bainihimā fab’aṡụ ḥakamam min ahlihī wa ḥakamam min ahlihā, iy yurīdā iṣlāḥay yuwaffiqillāhu bainahumā, innallāha kāna ‘alīman khabīrā

Artinya: Dan sekiranya anda kuatir berjalan persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang juru damai dari keluarga lelaki dan seorang juru damai dari keluarga perempuan. andaikan keduanya (juru damai itu) punya niat mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-istri itu. Sungguh, Allah Mahateliti, Maha Mengenal.

۞ وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ – ٣٦

wa’budullāha wa lā tusyrikụ bihī syai`aw wa bil-wālidaini iḥsānaw wa biżil-qurbā wal-yatāmā wal-masākīni wal-jāri żil-qurbā wal-jāril-junubi waṣ-ṣāḥibi bil-jambi wabnis-sabīli wa mā malakat aimānukum, innallāha lā yuḥibbu mang kāna mukhtālan fakhụrā

Artinya: Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya bersama sesuatu apa pun. Dan berbuat-baiklah kepada ke dua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu memiliki Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri,

ۨالَّذِيْنَ يَبْخَلُوْنَ وَيَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبُخْلِ وَيَكْتُمُوْنَ مَآ اٰتٰىهُمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖۗ وَاَعْتَدْنَا لِلْكٰفِرِيْنَ عَذَابًا مُّهِيْنًاۚ – ٣٧

allażīna yabkhalụna wa ya`murụnan-nāsa bil-bukhli wa yaktumụna mā ātāhumullāhu min faḍlih, wa a’tadnā lil-kāfirīna ‘ażābam muhīnā

Artinya: (yaitu) orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia yang telah diberikan Allah kepadanya. kita telah menyediakan untuk orang-orang kafir azab yang menghinakan.

وَالَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ رِئَاۤءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْاٰخِرِ ۗ وَمَنْ يَّكُنِ الشَّيْطٰنُ لَهٗ قَرِيْنًا فَسَاۤءَ قَرِيْنًا – ٣٨

wallażīna yunfiqụna amwālahum ri`ā`an-nāsi wa lā yu`minụna billāhi wa lā bil-yaumil-ākhir, wa may yakunisy-syaiṭānu lahụ qarīnan fa sā`a qarīnā

Artinya: Dan (juga) orang-orang yang menginfakkan hartanya dikarenakan ria dan kepada orang lain (ingin diamati dan dipuji), dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari sesudah itu Barangsiapa menjadikan setan sebagai temannya, maka (ketahuilah) dia (setan itu) adalah teman yang sangat jahat.

وَمَاذَا عَلَيْهِمْ لَوْ اٰمَنُوْا بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَاَنْفَقُوْا مِمَّا رَزَقَهُمُ اللّٰهُ ۗوَكَانَ اللّٰهُ بِهِمْ عَلِيْمًا – ٣٩

wa māżā ‘alaihim lau āmanụ billāhi wal-yaumil-ākhiri wa anfaqụ mimmā razaqahumullāh, wa kānallāhu bihim ‘alīmā

Artinya: Dan apa (keberatan) bagi mereka andaikan mereka beriman kepada Allah dan hari kemudian dan menginfakkan sebagian rezeki yang udah diberikan Allah kepadanya? Dan Allah Maha mengetahui keadaan mereka.

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ ۚوَاِنْ تَكُ حَسَنَةً يُّضٰعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَّدُنْهُ اَجْرًا عَظِيْمًا – ٤٠

innallāha lā yaẓlimu miṡqāla żarrah, wa in taku ḥasanatay yuḍā’if-hā wa yu`ti mil ladun-hu ajran ‘aẓīmā

Sungguh, Allah tidak akan menzalimi seseorang meskipun sebesar dzarrah, dan andaikan datang kebajikan (sekecil dzarrah), niscaya Allah bakal melipatgandakannya dan memberikan pahala yang besar dari sisi-Nya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *